PETERNAKAN KUDA di NUSANTARA POLO CLUB

PENDAHULUAN

Latar Belakang

Kuda merupakan hewan yang telah lama digunakan untuk kepentingan manusia, entah itu diambil tenaganya, kecepatannya, bahkan dagingnya sebagai makanan. Kuda (Equus caballus atau Equus ferus caballus) adalah salah satu dari sepuluh spesies modern mamalia dari genus Equus. Walaupun peternakan kuda diperkirakan telah dimulai sejak tahun 4500 SM, bukti-bukti penggunaan kuda untuk keperluan manusia baru ditemukan terjadi sejak 2000 SM. Namun ini tetaplah sebuah bukti bahwa kuda telah dikenal begitu lama oleh peradaban manusia.

Dewasa ini, penggunaan kuda tidak terbatas sebagai pengangkut ataupun penarik. Kuda mulai diminati dalam bidang olahraga. Sejak dahulu pun kuda telah digunakan dalam olahraga, terutama dalam lingkup-lingkup kerajaan, baik itu untuk berburu, atau bahkan dalam pacuan. Di Indonesia, penggunaan kuda dalam bidang olahraga terwujud pula dalam bentuk permainan polo. Polo yang di klaim sebagai raja dari olahraga sekaligus sebagai olahraga para raja, karena hanya segelintir orang saja yang memiliki kuda dan dapat memainkan permainan ini, maka layaklah polo mengklaim dirinya demikian.

Tujuan

Mengetahui tentang kuda-kuda yang terdapat di Nusantara Polo Club dan mempelajari manajemen pemeliharaan dan perawatan kuda, kandang, pakan, kesehatan, serta peraturan dalam permainan polo dan peralatan yang digunakan dalam permainan polo.

TINJAUAN PUSTAKA

Kuda

Kuda digolongkan kedalam filum Chordata (bertulang belakang), kelas Mamalia (menyusui anaknya), ordo Perssodactyla, famili Equidae, dan spesies Equus Cabalus (Blakely dan Blade). Kuda berasal dari spesies Equus caballus yang dahulu merupakan bangsa dari jenis kuda yang liar, kini kuda sudah menjadi hewan yang didomestikasi dan secara ekonomi memegang peranan penting bagi kehidupan manusia terutama dalam pengangkutan barang dan orang selama ribuan tahun. Kuda dapat ditunggangi manusia dengan menggunakan sadel dan dapat pula digunakan untuk menarik sesuatu seperti kendaraan beroda, atau bajak. Pada beberapa daerah, kuda digunakan sebagai sumber pangan. Walaupun peternakan kuda diperkirakan telah dimulai sejaktahun 4.500 SM, bukti-bukti penggunaan kuda untuk manusia baru ditemukan sejak 2.000 SM (Wikipedia, 2009).

Ternak kuda selain dapat digunakan untuk konsumsi masyarakat (daging kuda dan air susu), kuda juga dapat dimanfaatkan untuk berperang, untuk olahraga dan rekreasi, keperluan pertanian secara luas dan untuk alat pengangkutan. Kepemilikan ternak kuda juga dapat memberikan status sosial yang lebih tinggi pada npemiliknyab (Parakkasi, 1986).

Populasi kuda di seluruh dunia mencapai kira-kira 62 juta ekor, yang terdiri dari 500 bangsa, tipe dan varietas. Bangsa kuda pada awalnya dianggap sebagai hewan yang berkaitan dengan lokasi geografis tempatnya dikembangbiakkan untuk memenuhi kebutuhan manusia secara khusus (Bowling dan Ruvinsky, 2004).

Domestikasi kuda terjadi sekitar 5000 tahun yang lalu. Kuda pertama kali digunakan sebagai sumber pangan, untuk perang dan olahraga, serta untuk tujuan pengangkutan. Kuda tersebut digunakan untuk alat transportasi cepat untuk mengangkut orang dan memindahkan muatan yang berat. Kuda juga menjadi ternak penting dalam bidang pertanian, pertambangan, dan kehutanan (Bogart dan Taylor, 1983).

Kuda dapat diklasifikasikan menjadi tipe ringan, tipe berat maupun kuda poni sesuai ukuran, bentuk tubuh, dan kegunaan. Kuda tipe ringan mempunyai tinggi 1,45-1,7 m saat berdiri, bobot badan 450-700 kg dan sering digunakan sebagai kuda tunggang, kuda tarik atau kuda pacu. Kuda tipe ringan secara umum lebih aktif dan lebih cepat dibanding kuda tipe berat. Kuda tipe berat mempunyai tinggi 1,45-1,75 m saat berdiri, dengan bobot badan lebih dari 700 kg dan biasa digunakan untuk pekerja. Kuda poni memiliki tinggi kurang dari 1,45 m jika berdiri dan bobot badan 250-450 kg, berbeda kuda berukuran kecil biasanya juga terbentuk dari keturunan kuda tipe ringan (Ensminger, 1962).

Manajemen Pemeliharaan Kuda

Perkandangan

Membangun kandang di daerah tropis, diusahakan agar ada ventilasi sehingga pertukaran udara bisa berjalan lancar dan tidak menimbulkan hawa panas didalamnya. Air hujan jangan sampai masuk ke dalam kandang. Untuk kuda yang akan beranak, dipergunakan kandang yang agak tertutup (Jacoeb, 1994).

Atap pada kandang kuda lebih baik jika jaraknya semakin tinggi, karena dapat menghasilkan sirkulasi udara yang baik. Ketersediaan udara yang baik sangat dibutuhkan pada perkandangan kuda karena kuda mudah terkena penyakit pernafasan. Udara yang bersih sangat penting untuk kesehatan dan kenyaman kuda serta akan mempengaruhi kekuatan dari kuda tersebut. Ventilasi yang baik adalah berbentuk puncak pada atapnya dan akan sangat berpengaruh pada penangan masalah kuda. Jendela pada kuda juga harus berada pada posisi sejajar dengan kepala kuda (McBane, 1991).

McBane (1991) menyatakan bagian kandang harus tersedia air bersih. Air minum harus diperhatikan bagi kuda betina yang sedang menyusui, karena jika kuda betina tersebut kekurangan air dalam kondisi menyusui maka air susu induk akan berkurang pula. Kandang juga harus memiliki sistem pembuangan kotoran yang baik dan adanya ketersediaan listrik untuk lampu, kipas, dan lain sebagainya.

Kuda betina dan anaknya yang ditempatkan dalam satu kandang harus memiliki ukuran kandang lebar agar anak kuda dapat bergerak bebas, sedangkan kandang pejantan harus lebih kuat daripada kandang betina atau kandang anak. Letak kandang jantan lebih jauh dari kandang betina agar kuda betina tidak terganggu terutama saat merawat anaknya (Jacoebs,1994).

Alas kandang kuda harus selalu dalam keadaan bersih dan lunak serta beralaskan serbuk gergaji atau jerami. Alas yang lunak bertujuan agar melindungi kuda ketika sedang berguling, memberikan kehangatan dan untuk kenyaman kuda serta melindungi kaki kuda, terutama untuk kuda olahraga dan kuda pacu (McBane,1994).

Peternakan kuda lebih baik dilengkapi dengan fasilitas pendukung seperti tempat penyimpanan peralatan, tempat penyimpanan pakan, ruang groom pada setiap kandang sehingga memudahkan dalam pengawasan kuda (McBane,1994).

Pakan

Ketersediaan pakan yang baik akan menunjangkelangsungan hidup dan pertumbuhan kuda sehingga pakan merupakan faktor penting dalam peternakan kuda. Pakan utama kuda adalah rumput dengan berbagai jenis rumput seperti Panicum maticum dan Brachiaria mutica. Pakan rumput hanya cukup untuk digunakan bagi kelangsungan hidup tetapi untuk kuda pacu atau olahraga perlu tambahan konsentrat dan vitamin. Pakan konsentrat merupakan pakan tambahan energi bagi kuda. Konsentrat yang dapat diberikan antara lain konsentrat sereal yang terdiri dari gandum, jagung, produk tepung, sorgum, berbagai produk padi dan produk non sereal yang terdiri dari gula bit, rumput kering, kacang-kacangan (legum) seperti kedelai dan kacang (McBane,1994).

Pakan kuda yang diberikan harus sesuai dengan umur dan fungsi kuda tersebut. Umur kuda dapat dibagi menjadi empat kelompok, yaitu 1-6 bulan, 6-12 bulan, 12-24 bulan, dan diatas 24 bulan. Kuda yang berumur 1-6 bulan tidak disediakan pakan khusus, karena masih dalam masa menyusu dengan induknya. Induk kuda yang sedang menyusui memerlukan kebutuhan pakan yang cukup banyak baik untuk induk kuda maupun anaknya. Induk menyusui dan induk bunting memerlukan pakan tiga kali lipat terutama untuk vitamin dan mineral, kacang-kacangan dan bungkil yang dapat membantu pembentukan air air susu dalam jumlah yang cukup. Pengaturan pemberian pakan dapat dilakukan 2-3 kali sehari yaitu pagi, siang, sore hari tergantung dari kuda dan  fungsi kuda tersebut (Jacoebs, 1994).

Sejarah Perkembangan Polo di Indonesia

Sejarah olahraga Polo di Indonesia dimulai pada tahun 1937, saat Batavia Polo Club didirikan di Lapangan Banteng, Jakarta. Pendiri perkumpulan tersebut adalah seorang warga Belanda dan pertandingan pertama yang dilakukan adalah melawan regu polo Malaysia. Saat terjadi perang dunia kedua dan Indonesia dijajah Jepang, perkumpulan tersebut bubar. Hashim S. Djojohadikusumo dan James T. Riady kembali memperkenalkan polo di Indonesia dengan mendirikan JPEC (Jakarta Polo and Equestrian Club) di Bukit Sentul Selatan pada tahun 1992. Pada tahun yang sama itu pula, Indonesia menjadi anggota FIP (Federation of International Polo) dengan Hashim Djojohadikusumo sebagai Ketua Asosiasi Polo Indonesia. Dengan  bimbingan Subiyakto Cakra Wardaya sebagai Presiden Persatuan Olahraga Berkuda Indonesia (Pordasi), Asosiasi Polo Indonesia menjadi Komisi Polo Indonesia di bawah Pordasi dengan ketuanya tetap Hashim Djojohadikusumo. Karena kesibukannya berbisnis di luar negeri, perkembangan polo di Indonesia benar-benar berhenti tahun 2002.

Tahun 2005, di bawah bimbingan Letnan Jenderal (Pur.) Prabowo Subianto, didirikanlah Nusantara Polo Club. Klub ini mewakili Indonesia untuk pertama kalinya dalam turnamen Kings Cup 2006 di Thailand dan meraih peringkat ketiga di bawah Malaysia dan Jordan. Dalam akhir dari turnamen ini, negara-negara ASEAN: Malaysia, Filipina, Thailand, Singapura, dan Indonesia sepakat untuk membuat polo sebagai cabang olahraga resmi yang dimainkan dalam SEA Games 2007 di Thailand.

METODE

Materi

Bahan yang digunakan pada praktikum kali ini adalah kuda-kuda yang dipelihara di Nusantara Polo Club, obat-obatan, bahan makanan kuda, dan petugas-petugas Polo Club sebagai narasumber.

Alat yang digunakan pada praktikum kali ini adalah alat tulis dan kamera digital yang digunakan untuk mencatat dan menggambarkan keadaan yang ada dalam observasi lapang, peralatan pemeliharaan kuda, perlengkapan polo dan berkuda.

Prosedur

Praktikum dilakukan di daerah Cibinong pada peternakan kuda yang dikenal dengan nama Nusantara Polo Club, yang ditempuh selama kurang lebih dua jam dari Darmaga-Bogor. Rombongan praktikan dikelompokkan menjadi beberapa kelompok kecil yang masing-masing didampingi oleh petugas dari NPC sebagai instruktur. Metode yang dilakukan berupa observasi langsung dan wawancara langsung. Observasi dilakukan langsung terhadap kuda-kuda yang ada di NPC sebagai objek, kandang dan manajemen kandang, pakan, manajemen pemeliharaan, dan peralatan-peralatan pemeliharaan. Sementara wawancara langsung dilakukan kepada petugas-petugas yang menjadi instruktur setiap kelompok mengenai hal-hal yang tidak dapat diketahui berdasarkan observasi.

Pengamatan yang pertama adalah dengan mengamati kandang-kandang kuda (istal), yang dilanjutkan ke tempat penyimpanan pakan, dan ke dalam ruangan berisikan peralatan berkuda (equestrian) dan peralatan polo. Selanjutnya praktrikan diajak ke tempat pemasangan tapal kuda. Perjalanan diakhiri di lapangan polo dan praktikan pun diberi kesempatan menunggang kuda selama beberapa saat.

PEMBAHASAN

Nusantara Polo Club (NPC) merupakan klub polo berkuda eksklusif pertama di Indonesia yang dibangun oleh Prabowo Subianto di kawasan Jagorawi Golf & Country Club, Cibinong. Nusantara Polo Club merupakan klub terbuka untuk membina olahraga polo berkuda yang saat ini masih belum umum dimainkan di Indonesia. Lebih dari itu, NPC juga membina timnas polo Indonesia yang pada bulan Desember 2007 mewakili Indonesia pada cabang turnamen polo SEA GAMES 2007 di Thailand (http://www.jagorawi.com/p4.phtml). Pada tahun 2011, NPC rencananya akan dijadikan tempat penyelenggaraan turnamen polo berkuda pada SEA GAMES 2011 Indonesia (www.wikipedia.com).

Nusantara Polo Club telah berdiri selama kurang lebih empat tahun (2005-2009, saat kunjungan dilakukan), dengan jumlah kuda sekitar 72 ekor dan 32 ekor terdapat di kandang atas. Kuda yang ada di NPC terdiri dari kuda betina (mare) dan kuda pejantan dan kuda yang dikastrasi (stallion and gelding). Kuda yang digunakan untuk polo pada NPC biasanya berumur 6-9 tahun. Sebagian besar kuda pada Nusantara Polo Club berasal dari Argentina (terutama untuk polo), Australia dan Arab. Variasi jenis-jenis kuda yang dipelihara dari kuda Argentina adalah Triolo dan Palosa. Kuda Arab tidak digunakan untuk polo karena agresif dan biasanya digunakan untuk marathon. Tidak hanya itu, Nusantara Polo Club juga memiliki kuda-kuda lokal maupun kuda-kuda hasil persilangan. Kuda-kuda yang ada pada NPC umumnya memiliki tinggi rata-rata 150 – 160 cm, dengan umur kuda tertua mencapai 30 tahun. Namun perlu diingat bahwa meskipun kuda tersebut telah tua, pencatatan (recording) tetap dilakukan secara teratur sehingga semua data dapat terkumpul baik, demikian pula pada kuda-kuda muda dan semua kuda yang terdapat di Nusantara Polo Club. Kuda yang produktif untuk polo adalah berumur dibawah 10 tahun. Kuda dilatih untuk jalan-jalan setiap pagi dan sore dan lamanya adalah 50 menit.

Kandang setiap individu (kandang / istal individu) berukuran 4m x 4m, tinggi minimal 3-3,5 meter, dengan fasilitas kipas angin dan penyejuk otomatis setiap kandang, yang terletak diatas kandang individu, untuk menjaga suhu udara agar kuda-kuda tidak kepanasan dan stres. Suhu yang diizinkan untuk kuda (merupakan suhu nyaman) yaitu 30ºC. Panjang koridor barisan kandang individu adalah ± 48m atau 12 kandang individu, dengan lebar (jarak) kandang (face-to-face type) dengan kandang di depannya sejauh lima meter. Kandang beralaskan serutan kayu (litter & bedding) yang tidak terlalu halus setebal 15 cm, yang diganti setiap minggu. Pada pojok kiri belakang kandang terdapat tempat minum dan tempat pakan (berupa drum kayu) berada pada pojok depan kanan dari kandang individu. Berikut adalah gambaran kandang dilihat dari atas :

Tak hanya manajemen kandang, manajemen pakan secara intensif dan khusus pun sangat perlu diperhatikan. Pemberian pakan di Nusantara Polo Club dilakukan tiga kali sehari : pagi, siang, dan sore. Pagi hari (sekitar pukul lima) pakan yang diberikan berupa konsentrat sebanyak dua kilogram masing-masing kuda, siang hari (sekitar pukul 10.00) berupa rumput (hijauan) sebanyak 5 kg untuk sekali makan; karena bagaimanapun kuda merupakan hewan herbivora yang makanan utamanya adalah rumput atau hijauan, sehingga pemberian rumput akan membuat kuda merasa lebih nyaman selain membuat kuda lebih kenyang; dan sore hari (sekitar pukul 17.30) berupa campuran konsentrat dan rumput.

Konsentrat yang diberikan adalah jagung, oat, kwaci, kacang hijau, dan ada juga yang berbentuk pellet. Rumput (hijauan) yang diberikan merupakan Star grass. Pemberian pakan kuda dua kali dalam seminggu dicampur dengan sedikit minyak goreng, dengan tujuan melancarkan proses defekasi pada kuda.

Selain manajemen kandang dan pakan, hal lain yang tak kalah pentingnya, bahkan mungkin hal utama yang harus diperhatikan adalah manajemen perawatan kesehatan dan pemeliharaan ternak (kuda). Hal ini mencakup pemandian kuda, penyikatan, penyisiran bulu dan ekor, pengepangan ekor (saat akan bertanding polo), pemasangan dan penggantian tapal / sepatu kuda, pengolesan kuku dan kulit, dan lain-lain. Pemandian dilakukan jika kuda berkeringat. Pemandian dilakukan dengan sabun atau shampo atau detol (mengurangi kuman dan bakteri, sekaligus desinfektan), dilanjutkan dengan pengeringan, penyikatan dan penyisiran seluruh tubuh dan ekor, dan perawatan bulu (rambut) diantaranya dengan penggunaan Unipred untuk menjaga kulit tidak gatal-gatal. Kuda adalah hewan perasa yang sensitif, sehingga memerlukan sentuhan dan penyikatan yang cukup sering, mereka pun dapat merasakan suasana hati pemilik atau pengurusnya. Dengan kata lain, kuda senang diajak ‘berbicara’, mereka merasa gembira saat mereka diperhatikan, disikat, disisir, ditepuk-tepuk, bahkan saat diajak berbincang ketika kita berada di dekat mereka. Pemeriksaan kesehatan ternak kuda dilakukan seminggu sekali oleh dokter hewan. Penyakit yang sering menyerang ternak kuda adalah Kholik dan Thandom     (seperti encok).

Perawatan dilanjutkan terhadap kaki dan kuku, temasuk pemasangan dan penggantian tapal. Pemasangan tapal bertujuan untuk melindungi kaki (kuku) kuda dari benda tajam dan organisme pengganggu, serta untuk menjaga bentuk kuku kuda. Pemasangan tapal pertama kali dilakukan saat kuda berumur minimal dua tahun. Tapal diganti setiap satu bulan sekali, dengan pengecekan rutin setiap minggunya. Tapal yang sudah usang diganti dengan yang baru, dengan sebelumnya dilakukan pengikiran kuku agar rapi dan memudahkan pemasangan berikutnya. Dalam melakukan pemasangan tapal, paku yang digunakan berasal dari Sweden. Semakin ke arah belakang kuku, semakin kecil paku yang harus digunakan, mengingat semakin pendek kuku yang bertumbuh dan semakin dekat dengan daging. Perawatan terhadap kuku pun dilakukan dengan mengoleskan hoof-oil untuk menjaga agar kuku tetap sehat, tidak kering, dan tidak pecah-pecah. Rambut kuda yang ada pada bagian leher dicukur pendek supaya tidak mengganggu pergerakan tangan penunggangnya. Biaya perawatan untuk masing-masing kuda setiap bulannya adalah 2 juta/ ekor.

Manajemen perawatan dan pemeliharaan kuda di Nusantara Polo Club akan berinteraksi dengan penggunaan kuda baik pada polo maupun kegiatan berkuda (equestrian). Kegiatan-kegiatan penggunaan kuda-kuda tersebut tak lepas dari adanya peralatan dan perlengkapan-perlengkapan khusus yang tentunya juga memerlukan perawatan dan pemeliharaan secara khusus pula. Peralatan-peralatan tersebut diantaranya ialah :

1. Saddle (sadel) / pelana    : dudukan yang diletakkan pada punggung kuda

Terdapat perbedaan pada pelana untuk polo dan berkuda, pada ada tidaknya lidah dalam pelana serta sandaran pada belakang pelana.

Safety : sabuk yang melilitkan pelana ke badan kuda

Stirrup : rider’s foot support (pijakan kaki penunggang kuda)

2. Harness (tali)  :

Bridle : tali kekang kuda

Pelham

3. Double girth for mouth : digunakan untuk menahan kuda saat berontak

4. Bandage : dibalutkan pada kaki kuda, untuk mengurangi dampak  gesekan pada kaki.

5. Martingale

Selain alat-alat tersebut, terdapat pula alat-alat atau perlengkapan yang digunakan dalam permainan polo, namun alat-alat ini bukanlah dikenakan pada kuda melainkan pada penunggangnya :

Boot : sepatu bot. Terdapat perbedaan antara boot polo dengan boot untuk equestrian, boot untuk polo ritsletingnya terletak di depan sedangkan boot equestrian ritsleting terletak di belakang

Kneeguard :  pelindung lutut

Glove : sarung tangan

Helmet : helm / pelindung kepala

Polo stick / mallet : tongkat pemukul dalam permainan polo

Polo ball : bola dalam permainan polo. Terdiri dari dua jenis, dengan ukuran yang berbeda, untuk penggunaan pada jenis lapangan yang berbeda

Perawatan khusus untuk alat-alat ini meliputi pembersihan alat, penggosokan dengan alat pembersih yang berbahan kulit (leather soap), serta pemberian (pengolesan) minyak untuk melapis bahan kulit tersebut agar tetap awet dan elastis.

Membahas tentang polo, tentu tak lepas dari adanya lapangan yang akan digunakan pada permainan itu. Lapangan polo di Nusantara Polo Club berukuran 320m x 130m atau luas bersih sekitar 3,8 hektar dengan elevasi sebesar 2o. Lapangan ini ditanami rumput muda star grass 41. Selain itu, jenis rumput lainnya adalah rumput gajah mini dan rumput Argentina (pangola). Pemotongan rumput di lapangan dilakukan sebanyak dua kali dalam seminggu, penyiraman dilakukan hampir setiap hari terutama bila tidak turun hujan, dan pemupukan dilakukan cukup sering karena pada dasarnya tanaman rumput menyukai pupuk dan memang membutuhkannya. Hal lain yang tak bisa dilewatkan pula adalah bahwa Nusantara Polo Club memiliki atlit-atlit polo dan equestrian nasional yang telah berkiprah bahkan memenangkan tidak sedikit kejuaraan di kancah internasional maupun dalam negeri.

KESIMPULAN

Nusantara Polo Club merupakan klub berkuda eksklusif pertama di Indonesia dan terus menerus berkembang hingga sekarang. Nusantara Polo Club memiliki atlit-atlit polo dan equestrian nasional yang telah memenangkan banyak kejuaraan bahkan dalam pertandingan internasional. Pemeliharaan serta perawatan terhadap kuda, kandang, peralatan, dan kesehatan serta manajemen secara keseluruhan mencakup manajemen pakan dan latihan yang baik akan menjamin kualitas kuda serta seluruh kinerja Nusantara Polo Club bahkan peternakan dalam arti luas.

DAFTAR PUSTAKA

Blakely, J. Dan D. H. Blade. 1991. The Science of Animal Hubandry. Printice-Hall Inc. New Jersey.

Bogart, R. And R. E. Tylor. 1983. Scientific Farm Animal Production. 2nd Edition. Macmillan Publishing Company, New York.

Bowling, A. T. Ruvinsky. 2004. The Genetic of the Horses. CABI Publishing. London.

Ensminger, M. E. 1962. Animal Science. Animal AgriculturenSeries. 5th Edit. Printers & Publisher, Inc. Danville, Illinois.

Jacoebs, T. N. 1994. Budidaya Ternak Kuda. Kanisius. Yogyakarta.

McBane, S. 1991. Horse Care and Ridding a Thinking Approach. Paperback. United Kingdom.

McBane, S. 1994. Modern Stables Management. Ward Lock. United Kingdom.

Parakksasi, A. 1986. Ilmu Nutrisi dan Makanan Ternak Monogastrik vol. 1b. UI Press Indonesiaq. Jakarta.

Wikipedia. 2009. Kuda. http://id.wikipedia.org/wiki/Kuda (25 Oktober 2009)

http://www.jagorawi.com/p4.phtml (25 Oktober 2009)

http://www.wikipedia.com/nusantarapoloclub (25 Oktober 2009)

LAMPIRAN


Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s

Ikuti

Get every new post delivered to your Inbox.

%d bloggers like this: