PETERNAKAN KUDA di NUSANTARA POLO CLUB

PENDAHULUAN

Latar Belakang

Kuda merupakan hewan yang telah lama digunakan untuk kepentingan manusia, entah itu diambil tenaganya, kecepatannya, bahkan dagingnya sebagai makanan. Kuda (Equus caballus atau Equus ferus caballus) adalah salah satu dari sepuluh spesies modern mamalia dari genus Equus. Walaupun peternakan kuda diperkirakan telah dimulai sejak tahun 4500 SM, bukti-bukti penggunaan kuda untuk keperluan manusia baru ditemukan terjadi sejak 2000 SM. Namun ini tetaplah sebuah bukti bahwa kuda telah dikenal begitu lama oleh peradaban manusia.

Dewasa ini, penggunaan kuda tidak terbatas sebagai pengangkut ataupun penarik. Kuda mulai diminati dalam bidang olahraga. Sejak dahulu pun kuda telah digunakan dalam olahraga, terutama dalam lingkup-lingkup kerajaan, baik itu untuk berburu, atau bahkan dalam pacuan. Di Indonesia, penggunaan kuda dalam bidang olahraga terwujud pula dalam bentuk permainan polo. Polo yang di klaim sebagai raja dari olahraga sekaligus sebagai olahraga para raja, karena hanya segelintir orang saja yang memiliki kuda dan dapat memainkan permainan ini, maka layaklah polo mengklaim dirinya demikian.

Tujuan

Mengetahui tentang kuda-kuda yang terdapat di Nusantara Polo Club dan mempelajari manajemen pemeliharaan dan perawatan kuda, kandang, pakan, kesehatan, serta peraturan dalam permainan polo dan peralatan yang digunakan dalam permainan polo.

TINJAUAN PUSTAKA

Kuda

Kuda digolongkan kedalam filum Chordata (bertulang belakang), kelas Mamalia (menyusui anaknya), ordo Perssodactyla, famili Equidae, dan spesies Equus Cabalus (Blakely dan Blade). Kuda berasal dari spesies Equus caballus yang dahulu merupakan bangsa dari jenis kuda yang liar, kini kuda sudah menjadi hewan yang didomestikasi dan secara ekonomi memegang peranan penting bagi kehidupan manusia terutama dalam pengangkutan barang dan orang selama ribuan tahun. Kuda dapat ditunggangi manusia dengan menggunakan sadel dan dapat pula digunakan untuk menarik sesuatu seperti kendaraan beroda, atau bajak. Pada beberapa daerah, kuda digunakan sebagai sumber pangan. Walaupun peternakan kuda diperkirakan telah dimulai sejaktahun 4.500 SM, bukti-bukti penggunaan kuda untuk manusia baru ditemukan sejak 2.000 SM (Wikipedia, 2009).

Ternak kuda selain dapat digunakan untuk konsumsi masyarakat (daging kuda dan air susu), kuda juga dapat dimanfaatkan untuk berperang, untuk olahraga dan rekreasi, keperluan pertanian secara luas dan untuk alat pengangkutan. Kepemilikan ternak kuda juga dapat memberikan status sosial yang lebih tinggi pada npemiliknyab (Parakkasi, 1986).

Populasi kuda di seluruh dunia mencapai kira-kira 62 juta ekor, yang terdiri dari 500 bangsa, tipe dan varietas. Bangsa kuda pada awalnya dianggap sebagai hewan yang berkaitan dengan lokasi geografis tempatnya dikembangbiakkan untuk memenuhi kebutuhan manusia secara khusus (Bowling dan Ruvinsky, 2004).

Domestikasi kuda terjadi sekitar 5000 tahun yang lalu. Kuda pertama kali digunakan sebagai sumber pangan, untuk perang dan olahraga, serta untuk tujuan pengangkutan. Kuda tersebut digunakan untuk alat transportasi cepat untuk mengangkut orang dan memindahkan muatan yang berat. Kuda juga menjadi ternak penting dalam bidang pertanian, pertambangan, dan kehutanan (Bogart dan Taylor, 1983).

Kuda dapat diklasifikasikan menjadi tipe ringan, tipe berat maupun kuda poni sesuai ukuran, bentuk tubuh, dan kegunaan. Kuda tipe ringan mempunyai tinggi 1,45-1,7 m saat berdiri, bobot badan 450-700 kg dan sering digunakan sebagai kuda tunggang, kuda tarik atau kuda pacu. Kuda tipe ringan secara umum lebih aktif dan lebih cepat dibanding kuda tipe berat. Kuda tipe berat mempunyai tinggi 1,45-1,75 m saat berdiri, dengan bobot badan lebih dari 700 kg dan biasa digunakan untuk pekerja. Kuda poni memiliki tinggi kurang dari 1,45 m jika berdiri dan bobot badan 250-450 kg, berbeda kuda berukuran kecil biasanya juga terbentuk dari keturunan kuda tipe ringan (Ensminger, 1962).

Manajemen Pemeliharaan Kuda

Perkandangan

Membangun kandang di daerah tropis, diusahakan agar ada ventilasi sehingga pertukaran udara bisa berjalan lancar dan tidak menimbulkan hawa panas didalamnya. Air hujan jangan sampai masuk ke dalam kandang. Untuk kuda yang akan beranak, dipergunakan kandang yang agak tertutup (Jacoeb, 1994).

Atap pada kandang kuda lebih baik jika jaraknya semakin tinggi, karena dapat menghasilkan sirkulasi udara yang baik. Ketersediaan udara yang baik sangat dibutuhkan pada perkandangan kuda karena kuda mudah terkena penyakit pernafasan. Udara yang bersih sangat penting untuk kesehatan dan kenyaman kuda serta akan mempengaruhi kekuatan dari kuda tersebut. Ventilasi yang baik adalah berbentuk puncak pada atapnya dan akan sangat berpengaruh pada penangan masalah kuda. Jendela pada kuda juga harus berada pada posisi sejajar dengan kepala kuda (McBane, 1991).

McBane (1991) menyatakan bagian kandang harus tersedia air bersih. Air minum harus diperhatikan bagi kuda betina yang sedang menyusui, karena jika kuda betina tersebut kekurangan air dalam kondisi menyusui maka air susu induk akan berkurang pula. Kandang juga harus memiliki sistem pembuangan kotoran yang baik dan adanya ketersediaan listrik untuk lampu, kipas, dan lain sebagainya.

Kuda betina dan anaknya yang ditempatkan dalam satu kandang harus memiliki ukuran kandang lebar agar anak kuda dapat bergerak bebas, sedangkan kandang pejantan harus lebih kuat daripada kandang betina atau kandang anak. Letak kandang jantan lebih jauh dari kandang betina agar kuda betina tidak terganggu terutama saat merawat anaknya (Jacoebs,1994).

Alas kandang kuda harus selalu dalam keadaan bersih dan lunak serta beralaskan serbuk gergaji atau jerami. Alas yang lunak bertujuan agar melindungi kuda ketika sedang berguling, memberikan kehangatan dan untuk kenyaman kuda serta melindungi kaki kuda, terutama untuk kuda olahraga dan kuda pacu (McBane,1994).

Peternakan kuda lebih baik dilengkapi dengan fasilitas pendukung seperti tempat penyimpanan peralatan, tempat penyimpanan pakan, ruang groom pada setiap kandang sehingga memudahkan dalam pengawasan kuda (McBane,1994).

Pakan

Ketersediaan pakan yang baik akan menunjangkelangsungan hidup dan pertumbuhan kuda sehingga pakan merupakan faktor penting dalam peternakan kuda. Pakan utama kuda adalah rumput dengan berbagai jenis rumput seperti Panicum maticum dan Brachiaria mutica. Pakan rumput hanya cukup untuk digunakan bagi kelangsungan hidup tetapi untuk kuda pacu atau olahraga perlu tambahan konsentrat dan vitamin. Pakan konsentrat merupakan pakan tambahan energi bagi kuda. Konsentrat yang dapat diberikan antara lain konsentrat sereal yang terdiri dari gandum, jagung, produk tepung, sorgum, berbagai produk padi dan produk non sereal yang terdiri dari gula bit, rumput kering, kacang-kacangan (legum) seperti kedelai dan kacang (McBane,1994).

Pakan kuda yang diberikan harus sesuai dengan umur dan fungsi kuda tersebut. Umur kuda dapat dibagi menjadi empat kelompok, yaitu 1-6 bulan, 6-12 bulan, 12-24 bulan, dan diatas 24 bulan. Kuda yang berumur 1-6 bulan tidak disediakan pakan khusus, karena masih dalam masa menyusu dengan induknya. Induk kuda yang sedang menyusui memerlukan kebutuhan pakan yang cukup banyak baik untuk induk kuda maupun anaknya. Induk menyusui dan induk bunting memerlukan pakan tiga kali lipat terutama untuk vitamin dan mineral, kacang-kacangan dan bungkil yang dapat membantu pembentukan air air susu dalam jumlah yang cukup. Pengaturan pemberian pakan dapat dilakukan 2-3 kali sehari yaitu pagi, siang, sore hari tergantung dari kuda dan  fungsi kuda tersebut (Jacoebs, 1994).

Sejarah Perkembangan Polo di Indonesia

Sejarah olahraga Polo di Indonesia dimulai pada tahun 1937, saat Batavia Polo Club didirikan di Lapangan Banteng, Jakarta. Pendiri perkumpulan tersebut adalah seorang warga Belanda dan pertandingan pertama yang dilakukan adalah melawan regu polo Malaysia. Saat terjadi perang dunia kedua dan Indonesia dijajah Jepang, perkumpulan tersebut bubar. Hashim S. Djojohadikusumo dan James T. Riady kembali memperkenalkan polo di Indonesia dengan mendirikan JPEC (Jakarta Polo and Equestrian Club) di Bukit Sentul Selatan pada tahun 1992. Pada tahun yang sama itu pula, Indonesia menjadi anggota FIP (Federation of International Polo) dengan Hashim Djojohadikusumo sebagai Ketua Asosiasi Polo Indonesia. Dengan  bimbingan Subiyakto Cakra Wardaya sebagai Presiden Persatuan Olahraga Berkuda Indonesia (Pordasi), Asosiasi Polo Indonesia menjadi Komisi Polo Indonesia di bawah Pordasi dengan ketuanya tetap Hashim Djojohadikusumo. Karena kesibukannya berbisnis di luar negeri, perkembangan polo di Indonesia benar-benar berhenti tahun 2002.

Tahun 2005, di bawah bimbingan Letnan Jenderal (Pur.) Prabowo Subianto, didirikanlah Nusantara Polo Club. Klub ini mewakili Indonesia untuk pertama kalinya dalam turnamen Kings Cup 2006 di Thailand dan meraih peringkat ketiga di bawah Malaysia dan Jordan. Dalam akhir dari turnamen ini, negara-negara ASEAN: Malaysia, Filipina, Thailand, Singapura, dan Indonesia sepakat untuk membuat polo sebagai cabang olahraga resmi yang dimainkan dalam SEA Games 2007 di Thailand.

METODE

Materi

Bahan yang digunakan pada praktikum kali ini adalah kuda-kuda yang dipelihara di Nusantara Polo Club, obat-obatan, bahan makanan kuda, dan petugas-petugas Polo Club sebagai narasumber.

Alat yang digunakan pada praktikum kali ini adalah alat tulis dan kamera digital yang digunakan untuk mencatat dan menggambarkan keadaan yang ada dalam observasi lapang, peralatan pemeliharaan kuda, perlengkapan polo dan berkuda.

Prosedur

Praktikum dilakukan di daerah Cibinong pada peternakan kuda yang dikenal dengan nama Nusantara Polo Club, yang ditempuh selama kurang lebih dua jam dari Darmaga-Bogor. Rombongan praktikan dikelompokkan menjadi beberapa kelompok kecil yang masing-masing didampingi oleh petugas dari NPC sebagai instruktur. Metode yang dilakukan berupa observasi langsung dan wawancara langsung. Observasi dilakukan langsung terhadap kuda-kuda yang ada di NPC sebagai objek, kandang dan manajemen kandang, pakan, manajemen pemeliharaan, dan peralatan-peralatan pemeliharaan. Sementara wawancara langsung dilakukan kepada petugas-petugas yang menjadi instruktur setiap kelompok mengenai hal-hal yang tidak dapat diketahui berdasarkan observasi.

Pengamatan yang pertama adalah dengan mengamati kandang-kandang kuda (istal), yang dilanjutkan ke tempat penyimpanan pakan, dan ke dalam ruangan berisikan peralatan berkuda (equestrian) dan peralatan polo. Selanjutnya praktrikan diajak ke tempat pemasangan tapal kuda. Perjalanan diakhiri di lapangan polo dan praktikan pun diberi kesempatan menunggang kuda selama beberapa saat.

PEMBAHASAN

Nusantara Polo Club (NPC) merupakan klub polo berkuda eksklusif pertama di Indonesia yang dibangun oleh Prabowo Subianto di kawasan Jagorawi Golf & Country Club, Cibinong. Nusantara Polo Club merupakan klub terbuka untuk membina olahraga polo berkuda yang saat ini masih belum umum dimainkan di Indonesia. Lebih dari itu, NPC juga membina timnas polo Indonesia yang pada bulan Desember 2007 mewakili Indonesia pada cabang turnamen polo SEA GAMES 2007 di Thailand (http://www.jagorawi.com/p4.phtml). Pada tahun 2011, NPC rencananya akan dijadikan tempat penyelenggaraan turnamen polo berkuda pada SEA GAMES 2011 Indonesia (www.wikipedia.com).

Nusantara Polo Club telah berdiri selama kurang lebih empat tahun (2005-2009, saat kunjungan dilakukan), dengan jumlah kuda sekitar 72 ekor dan 32 ekor terdapat di kandang atas. Kuda yang ada di NPC terdiri dari kuda betina (mare) dan kuda pejantan dan kuda yang dikastrasi (stallion and gelding). Kuda yang digunakan untuk polo pada NPC biasanya berumur 6-9 tahun. Sebagian besar kuda pada Nusantara Polo Club berasal dari Argentina (terutama untuk polo), Australia dan Arab. Variasi jenis-jenis kuda yang dipelihara dari kuda Argentina adalah Triolo dan Palosa. Kuda Arab tidak digunakan untuk polo karena agresif dan biasanya digunakan untuk marathon. Tidak hanya itu, Nusantara Polo Club juga memiliki kuda-kuda lokal maupun kuda-kuda hasil persilangan. Kuda-kuda yang ada pada NPC umumnya memiliki tinggi rata-rata 150 – 160 cm, dengan umur kuda tertua mencapai 30 tahun. Namun perlu diingat bahwa meskipun kuda tersebut telah tua, pencatatan (recording) tetap dilakukan secara teratur sehingga semua data dapat terkumpul baik, demikian pula pada kuda-kuda muda dan semua kuda yang terdapat di Nusantara Polo Club. Kuda yang produktif untuk polo adalah berumur dibawah 10 tahun. Kuda dilatih untuk jalan-jalan setiap pagi dan sore dan lamanya adalah 50 menit.

Kandang setiap individu (kandang / istal individu) berukuran 4m x 4m, tinggi minimal 3-3,5 meter, dengan fasilitas kipas angin dan penyejuk otomatis setiap kandang, yang terletak diatas kandang individu, untuk menjaga suhu udara agar kuda-kuda tidak kepanasan dan stres. Suhu yang diizinkan untuk kuda (merupakan suhu nyaman) yaitu 30ºC. Panjang koridor barisan kandang individu adalah ± 48m atau 12 kandang individu, dengan lebar (jarak) kandang (face-to-face type) dengan kandang di depannya sejauh lima meter. Kandang beralaskan serutan kayu (litter & bedding) yang tidak terlalu halus setebal 15 cm, yang diganti setiap minggu. Pada pojok kiri belakang kandang terdapat tempat minum dan tempat pakan (berupa drum kayu) berada pada pojok depan kanan dari kandang individu. Berikut adalah gambaran kandang dilihat dari atas :

Tak hanya manajemen kandang, manajemen pakan secara intensif dan khusus pun sangat perlu diperhatikan. Pemberian pakan di Nusantara Polo Club dilakukan tiga kali sehari : pagi, siang, dan sore. Pagi hari (sekitar pukul lima) pakan yang diberikan berupa konsentrat sebanyak dua kilogram masing-masing kuda, siang hari (sekitar pukul 10.00) berupa rumput (hijauan) sebanyak 5 kg untuk sekali makan; karena bagaimanapun kuda merupakan hewan herbivora yang makanan utamanya adalah rumput atau hijauan, sehingga pemberian rumput akan membuat kuda merasa lebih nyaman selain membuat kuda lebih kenyang; dan sore hari (sekitar pukul 17.30) berupa campuran konsentrat dan rumput.

Konsentrat yang diberikan adalah jagung, oat, kwaci, kacang hijau, dan ada juga yang berbentuk pellet. Rumput (hijauan) yang diberikan merupakan Star grass. Pemberian pakan kuda dua kali dalam seminggu dicampur dengan sedikit minyak goreng, dengan tujuan melancarkan proses defekasi pada kuda.

Selain manajemen kandang dan pakan, hal lain yang tak kalah pentingnya, bahkan mungkin hal utama yang harus diperhatikan adalah manajemen perawatan kesehatan dan pemeliharaan ternak (kuda). Hal ini mencakup pemandian kuda, penyikatan, penyisiran bulu dan ekor, pengepangan ekor (saat akan bertanding polo), pemasangan dan penggantian tapal / sepatu kuda, pengolesan kuku dan kulit, dan lain-lain. Pemandian dilakukan jika kuda berkeringat. Pemandian dilakukan dengan sabun atau shampo atau detol (mengurangi kuman dan bakteri, sekaligus desinfektan), dilanjutkan dengan pengeringan, penyikatan dan penyisiran seluruh tubuh dan ekor, dan perawatan bulu (rambut) diantaranya dengan penggunaan Unipred untuk menjaga kulit tidak gatal-gatal. Kuda adalah hewan perasa yang sensitif, sehingga memerlukan sentuhan dan penyikatan yang cukup sering, mereka pun dapat merasakan suasana hati pemilik atau pengurusnya. Dengan kata lain, kuda senang diajak ‘berbicara’, mereka merasa gembira saat mereka diperhatikan, disikat, disisir, ditepuk-tepuk, bahkan saat diajak berbincang ketika kita berada di dekat mereka. Pemeriksaan kesehatan ternak kuda dilakukan seminggu sekali oleh dokter hewan. Penyakit yang sering menyerang ternak kuda adalah Kholik dan Thandom     (seperti encok).

Perawatan dilanjutkan terhadap kaki dan kuku, temasuk pemasangan dan penggantian tapal. Pemasangan tapal bertujuan untuk melindungi kaki (kuku) kuda dari benda tajam dan organisme pengganggu, serta untuk menjaga bentuk kuku kuda. Pemasangan tapal pertama kali dilakukan saat kuda berumur minimal dua tahun. Tapal diganti setiap satu bulan sekali, dengan pengecekan rutin setiap minggunya. Tapal yang sudah usang diganti dengan yang baru, dengan sebelumnya dilakukan pengikiran kuku agar rapi dan memudahkan pemasangan berikutnya. Dalam melakukan pemasangan tapal, paku yang digunakan berasal dari Sweden. Semakin ke arah belakang kuku, semakin kecil paku yang harus digunakan, mengingat semakin pendek kuku yang bertumbuh dan semakin dekat dengan daging. Perawatan terhadap kuku pun dilakukan dengan mengoleskan hoof-oil untuk menjaga agar kuku tetap sehat, tidak kering, dan tidak pecah-pecah. Rambut kuda yang ada pada bagian leher dicukur pendek supaya tidak mengganggu pergerakan tangan penunggangnya. Biaya perawatan untuk masing-masing kuda setiap bulannya adalah 2 juta/ ekor.

Manajemen perawatan dan pemeliharaan kuda di Nusantara Polo Club akan berinteraksi dengan penggunaan kuda baik pada polo maupun kegiatan berkuda (equestrian). Kegiatan-kegiatan penggunaan kuda-kuda tersebut tak lepas dari adanya peralatan dan perlengkapan-perlengkapan khusus yang tentunya juga memerlukan perawatan dan pemeliharaan secara khusus pula. Peralatan-peralatan tersebut diantaranya ialah :

1. Saddle (sadel) / pelana    : dudukan yang diletakkan pada punggung kuda

Terdapat perbedaan pada pelana untuk polo dan berkuda, pada ada tidaknya lidah dalam pelana serta sandaran pada belakang pelana.

Safety : sabuk yang melilitkan pelana ke badan kuda

Stirrup : rider’s foot support (pijakan kaki penunggang kuda)

2. Harness (tali)  :

Bridle : tali kekang kuda

Pelham

3. Double girth for mouth : digunakan untuk menahan kuda saat berontak

4. Bandage : dibalutkan pada kaki kuda, untuk mengurangi dampak  gesekan pada kaki.

5. Martingale

Selain alat-alat tersebut, terdapat pula alat-alat atau perlengkapan yang digunakan dalam permainan polo, namun alat-alat ini bukanlah dikenakan pada kuda melainkan pada penunggangnya :

Boot : sepatu bot. Terdapat perbedaan antara boot polo dengan boot untuk equestrian, boot untuk polo ritsletingnya terletak di depan sedangkan boot equestrian ritsleting terletak di belakang

Kneeguard :  pelindung lutut

Glove : sarung tangan

Helmet : helm / pelindung kepala

Polo stick / mallet : tongkat pemukul dalam permainan polo

Polo ball : bola dalam permainan polo. Terdiri dari dua jenis, dengan ukuran yang berbeda, untuk penggunaan pada jenis lapangan yang berbeda

Perawatan khusus untuk alat-alat ini meliputi pembersihan alat, penggosokan dengan alat pembersih yang berbahan kulit (leather soap), serta pemberian (pengolesan) minyak untuk melapis bahan kulit tersebut agar tetap awet dan elastis.

Membahas tentang polo, tentu tak lepas dari adanya lapangan yang akan digunakan pada permainan itu. Lapangan polo di Nusantara Polo Club berukuran 320m x 130m atau luas bersih sekitar 3,8 hektar dengan elevasi sebesar 2o. Lapangan ini ditanami rumput muda star grass 41. Selain itu, jenis rumput lainnya adalah rumput gajah mini dan rumput Argentina (pangola). Pemotongan rumput di lapangan dilakukan sebanyak dua kali dalam seminggu, penyiraman dilakukan hampir setiap hari terutama bila tidak turun hujan, dan pemupukan dilakukan cukup sering karena pada dasarnya tanaman rumput menyukai pupuk dan memang membutuhkannya. Hal lain yang tak bisa dilewatkan pula adalah bahwa Nusantara Polo Club memiliki atlit-atlit polo dan equestrian nasional yang telah berkiprah bahkan memenangkan tidak sedikit kejuaraan di kancah internasional maupun dalam negeri.

KESIMPULAN

Nusantara Polo Club merupakan klub berkuda eksklusif pertama di Indonesia dan terus menerus berkembang hingga sekarang. Nusantara Polo Club memiliki atlit-atlit polo dan equestrian nasional yang telah memenangkan banyak kejuaraan bahkan dalam pertandingan internasional. Pemeliharaan serta perawatan terhadap kuda, kandang, peralatan, dan kesehatan serta manajemen secara keseluruhan mencakup manajemen pakan dan latihan yang baik akan menjamin kualitas kuda serta seluruh kinerja Nusantara Polo Club bahkan peternakan dalam arti luas.

DAFTAR PUSTAKA

Blakely, J. Dan D. H. Blade. 1991. The Science of Animal Hubandry. Printice-Hall Inc. New Jersey.

Bogart, R. And R. E. Tylor. 1983. Scientific Farm Animal Production. 2nd Edition. Macmillan Publishing Company, New York.

Bowling, A. T. Ruvinsky. 2004. The Genetic of the Horses. CABI Publishing. London.

Ensminger, M. E. 1962. Animal Science. Animal AgriculturenSeries. 5th Edit. Printers & Publisher, Inc. Danville, Illinois.

Jacoebs, T. N. 1994. Budidaya Ternak Kuda. Kanisius. Yogyakarta.

McBane, S. 1991. Horse Care and Ridding a Thinking Approach. Paperback. United Kingdom.

McBane, S. 1994. Modern Stables Management. Ward Lock. United Kingdom.

Parakksasi, A. 1986. Ilmu Nutrisi dan Makanan Ternak Monogastrik vol. 1b. UI Press Indonesiaq. Jakarta.

Wikipedia. 2009. Kuda. http://id.wikipedia.org/wiki/Kuda (25 Oktober 2009)

http://www.jagorawi.com/p4.phtml (25 Oktober 2009)

http://www.wikipedia.com/nusantarapoloclub (25 Oktober 2009)

LAMPIRAN


Leave a comment »

KORELASI PEARSON DAN PERSAMAAN REGRESI LINEAR

Berikut disajikan tabel untuk dihitung korelasi antara sifat lama mesin beroperasi dengan kuantitas hasil produksinya serta persamaan regresinya.

Tabel 1. Hubungan antara Lama Penggunaan Mesin Produksi dengan Kuantitas Hasil Produksi Pellet Pakan Ternak

Kelas Lama Penggunaan Mesin (Faktor) Lama Penggunaan Mesin Produksi (Jam) Kuantitas Hasil Produksi (Ton)
1 2 10
1 4 20
2 6 50
2 6 55
2 8 60
2 8 65
2 8 70
3 9 75
3 9 80
3 10 85

—————   22/12/2009 13:20:06   ——————————————————

Welcome to Minitab, press F1 for help.

Correlations: Lama; Produksi

Pearson correlation of Lama and Produksi = 0,981

Artinya antara lama dan produksi berkorelasi secara linear positif sangat kuat

P-Value = 0,000

Artinya terdapat  korelasi antara lama dan produksi (nyata P<0,01)

Regression Analysis: Produksi versus Lama

The regression equation is

Produksi = – 11,1 + 9,73 Lama

Setiap peningkatan  lama satu satuan akan meningkatkan produksi sebanyak satu satuan produksi.

Predictor     Coef       SE Coef     T           P

Constant   -11,125       5,010    -2,22    0,057

Lama          9,7321      0,6781  14,35    0,000

S = 5,07423   R-Sq = 96,3%   R-Sq(adj) = 95,8%

R-Sq = menerangkan bahwa 96,3% proporsi keragaman nilai peubah y dapat diterangkan oleh peubah x melalui hubungan linear, sisanya (3,7%) dijelaskan oleh hal lain.

Analysis of Variance

Source                   DF         SS       MS         F           P

Regression                1   5304,0  5304,0   206,00     0,000

Residual Error           8     206,0     25,7

Total                        9    5510,0

Keterangan: DF (derajat bebas), SS  (Jangkauan Kuartil), F (Feasher), P (Probability)

Langkah-langkah penyelesaian:

Statistik Parametrik

Uji Korelasi Pearson

Komputer dihidupkan  kemudian dibuka aplikasi MINITAB 14. Setelah itu, diklik Stat>Basic Statistic>Correlation. Pada kotak Variables disorot C2 C3>select, maka di Variables tertera C2 C3, dan pada kotak Display p-value diberi tanda √, diklik Ok. Setelah itu, pada hasil olahan tersebut perlu diperhatikan nilai korelasi Pearson serta nilai p-nya dan diberi kesimpulan. Hasil olahan disimpan di minitab, File>save session windows as: C:\C:\PENKOM\MAYORFAPET\KORPEARSON-NAMA MAHASISWA. File tersebut dibuka di Ms.Word, File>open dan dicari filenya. KORPEARSON-NAMA MAHASISWA (dengan tanda khusus minitab yang menunjukkan hasil olahan data); file conversion-KORPEARSON-NAMA MAHASISWA; diklik Ok. Lalu diklik File>save, diklik No. Sorot Word Document>Save. File KORPEARSON-NAMA MAHASISWA session (hasil olahan) sudah dalam file Word Document. File tersebut dapat saudara edit dan dibuat kesimpulan, disisipkan ke dalam file Word Document , grafik-grafik yang telah dibuat, dan buat kesimpulannya.

Uji Regresi

MINITAB 14 dibuka, setelah itu diklik Stat>Regression. Di Responses, masukkan C3, dan di Predictors dimasukkan C2>Ok. Hasil olahan disimpan di minitab, File>save session windows as: C:\PENKOM\MAYORFAPET\REGRESI-NAMA MAHASISWA. File tersebut dibuka di Ms.Word, File>open>cari file C:\C:\PENKOM\MAYORFAPET\REGRESI-NAMA MAHASISIWA (dengan tanda khusus minitab yang menunjukkan hasil olahan data); file conversion-REGRESI-NAMA MAHASISWA; diklik Ok. Lalu diklik File>save, diklik No. Sorot Word Document>Save. File REGRESI-NAMA MAHASISWA session (hasil olahan) sudah dalam file Word Document. File tersebut dapat saudara edit dan dibuat kesimpulan. Pada lembar olahan data, akan tampil grafik plotting, dengan sumbu X adalah Rankits dan Y adalah Ordered Data. Di bawah gambar, akan tampil nilai W (Shapiro-Wilk) dan P. Bila nilai P > 0,05, maka Ho diterima; data memenuhi asumsi pokok analisis keragaman untuk kebebasan galat. Hasil olahan disimpan, Save>C:\PENKOM\MAYORFAPET\LAMA MESIN bebas galat.NAMA MAHASISWA. Statistics>Randomness>Normality Tests>Normal Probability Plot, di kotak dialog Normal Probability Test, diklik PRODUKSI dilanjutkan dengan tanda panah arah kanan>Ok. Pada lembar olahan data, akan tampil grafik plotting, dengan sumbu X adalah Rankits dan gambarY adalah Ordered Data. Di bawah  gambar, akan tampil nilai W (Shapiro-Wilk) dan P. Bila nilai P > 0,05, maka Ho diterima; data memenuhi asumsi pokok analisis keragaman untuk kebebasan galat. Hasil olahan disimpan, Save>C:\PENKOM\MAYORFAPET\PRODUKSI MESIN bebas galat.NAMA MAHASISWA.

Data penggunaan mesin tersebut memenuhi asumsi pokok analisis keragaman, sehingga untuk menghitung koefisien korelasi dan persamaan regresinya, digunakan statistik parametrik.

KORELASI SPEARMAN DAN PERSAMAAN REGRESI LINIERNYA MINITAB 14

Tabel 1.  Skor Ketangkasan Jari dan Kemampuan Mekanikal Pekerja

Pekerja Ketangkasan Jari Kemampuan Mekanikal
A 1 2
B 2 1
C 3 8
D 3 2
E 3 2
F 6 6
G 7 6
H 8 5

—————   19/06/2002 2:50:58   ——————————————————

Welcome to Minitab, press F1 for help.

Sum of C7

Sum of C7 = 32,5

Data Display

K1    32,5000

K2    195,000

K3    64,0000

K4    63,0000

K5    504,000

K6    0,386905

K7    0,613095

Keterangan : rs = k7 = 0,613095, artinya terdapat korelasi linear positif yang kuat antara kemampuan dan ketangkasan

Data Display

K8     6,00000

K9     2,44949

K10    1,50177

K11    0,375886

K12    0,624114

K13    0,790009

K14    1,90095

Data Display

K15    9,00000

K16    0,386905

K17    0,193452

K18    1,74107

nilai a=k18

Persamaan regresi:

Y= 1,74107+0,613095x

x= kemampuan mekanikal

y=ketangkasan jari

Keterangan: Setiap penambahan satu satuan   peubah x (kemampuan mekanikal) diikuti dengan penambahan  peubah y (ketangkasan jari).

Cara mencari koefisien korelasi Spearman (rs):

Komputer dihidupkan kemudian buka MINITAB 14. Data pekerja dipasok di C1 (PEKERJA), data ketangkasan jari di C2 (KETANGKASAN JARI), dan data kemampuan mekanikal di C3 (KEMAMPUAN MEKANIKAL). Selanjutnya, diklik Data>Rank>di Rank data in: disorot C2, diklik select; di Store rank in: diketik C4, dan diklik Ok. Kemudian diklik lagi Data>Rank>di Rank data in: sorot C3, diklik Select; di Store ranks ini: diklik C5>Ok. Pada Worksheet terdapat data rank (peringkat) pada C4 dan C5.

Setelah itu, diklik Cal>Calculator, di Store result in variable: diketikkan C6, dan pada Expression disorot C4, diklik select; lalu diklik tanda – dan dilanjutkan dengan menyorot C5, diklik select>OK. Selanjutnya diklik lagi Cal>Calculator, di Store result in variabel diketikkan C7 dan  pada Expression disorot C6, diklik select, lalu diklik tanda * dan disorot C6, diklik lagi select>Ok. Kemudian diklik Cal> Column Statistic, di Statistik pilih sum, di Input variabel disorot C7>select, di Store result in diketikkan k1>Ok; pada Session terdapat nilai k1 dan pada Worksheet terdapat C6 dan C7.

Cal>Calculator diklik lagi dan pada Store result in variabel diketikkan k2, di Expression diklik tanda 6, diklik  *, lalu sorot k1, pilih select>Ok. Cara yang sama juga dilakukan untuk k3 yaitu diklik Cal>Calculator, di Store result in variabel diketikkan  k3 dan di Expression diklik tanda 8, diklik *, diklik tanda 8, lalu disorot k1>Ok. Klik lagi Cal>Calculator, di Strore result in variabel diketikkan k4, di Expression disorot k3>select,  lalu diklik tanda -, dilanjutkan dengan mengklik tanda 1>Ok. Setelah itu, diklik lagi Cal>Calculator, di Store result in variabel diketikkan k5, di Expression disorot k4>select, klik tanda * dilanjutkan dengan tanda 8>Ok. Setelah itu, klik Cal>Calculator, di Store result in variabel diketikkan k6, dan di Expression disorot k2>select, diklik tanda /, lalu sorot k5>Ok. Selanjutnya, pilih lagi Cal>Calculator, di Store result in variabel diketikkan  k7, di Expression diklik tanda 1 lalu diklik tanda – dan dilanjutkan dengan menyorot k6, diklik select>Ok. Untuk menampilkan data yang telah diolah tersebut dapat dilakukan dengan mengklik Data>Display data, lalu disorot k1-k7, pilih select>Ok. Pada Session terdapat nilai k1-k7, nilai korelasi Spearman (rs) adalah k7.

Untuk menentukan data tersebut nyata atau tidak nyata dapat dilakukan dengan uji t yaitu, dengan mengklik Cal>Calculator, di Store result in variabel diketikkan k8, dan di Expression diklik tanda 8, lalu – dan dilanjutkan  dengan mengklik tanda 2, pilih select>Ok. Setelah itu diklik lagi Cal>Calculator, di Store result in variabel diketikkan k9, pada kolom Function dipilih Square root>select, di Expression terdapat (SQRT (number)), number  tersebut diganti dengan k8, diklik Ok. Pilih Cal>Calculator, di Store result in variabel diketikkan k10 dan di Expression disorot k7 dilanjutkan dengan  mengklik tanda *, lalu menyorot k9 dan klik Ok. Cara yang sama juga dilakukan dengan mengklik Cal>Calculator, pada Store result in variabel diketikkan k11 dan di Expression disorot k7>select, lalu diklik  tanda * dan dilanjutkan dengan menyorot k7 kembali dan diklik select>Ok. Kemudian diklik lagi Cal>Calculator, di Store result in variabel diketikkan k12 dan di Expression diklik tanda 1 diikuti dengan tanda -, lalu disorot k11, pilih select>Ok. Setelah itu, Cal>Calculator dipilih lagi dan di Store result in variabel diketikkan k13 dan di kolom Function dilih Square root>select, pada Expression didapat (SQRT(number)), number tersebut diganti dengan k12>Ok. Pilih Cal>Calculator, di Store result in variabel diketikkan k14 dan pada Expression disorot k10, diklik select dilanjutkan dengan tanda /, kemudian disorot k13>Ok. Untuk menampilakn data tersebut pilih Data>Display data, lalu disorot k8-k14>select>Ok. Pad Session terdapat nilai k8-k14, nilai t hitung adalah k14.

Tabel t (0.05/2) n = 8 pada buku teks statistik dibuka untuk membandingkan daerah kritisnya dengan k14, kemudian ambil kesimpulan. Selanjutnya, pilih Cal>Calculator, di Store result in variabel diketikkan k15 dan pada Expression diklik tanda 8,+,1>Ok. Pilih Cal>Calculator, di Store result in variabel diketikkan k16 dan pada Expression diklik tanda 1,-, lalu disorot k7>select>Ok. Setelah itu, pilih lagi Cal>Calculator, di Store result in variabel diketikkan k17 dan pada Expression disorot k16>select, lalu diklik tanda /, 2>Ok. Kemudian klik Cal>Calculator, di Store result in variabel diketikkan k18 dan pada  Expression disorot k15>select, dilanjutkan dengan mengklik tanda * lalu disorot k17>select>Ok. Cara yang sama juga dililakukan untuk k18 yaitu dengan mengklik Cal>Calculator, di Store result in variabel diketikkan k18 dan pada Expressioan disorot k15>select, dan dilanjutkan dengan mengklik tanda *  dan disorot k17>select>Ok. Nilai k18 merupakan nilai a, kemudian dibuat persamaan regresi Y=a+bx (b = rs = k7).

Leave a comment »